MEMAHAMI ESENSI ASMAUL HUSNA DALAM ALQUR’AN

             Alqur’an bukan suatu kitab yang ditujukan bagi suatu kaum atau bangsa, tetapi bagi manusia seluruhnya, apapun bahasa, warna kulit dan latar belakang budayanya, cocok di semua tempat dan kurun waktu. Allah Swt. menjadikannya sebagai petunjuk bagi manusia, baik hubungannya dengan Tuhannya, sesama manusia maupun dengan alam sekitarnya, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, semua kalangan atau golongan, apapun strata sosial seseorang, bangsawan atau rakyat jelata, kaya atau miskin.

            Alqur’an memuat dan menerangkan tujuan puncak umat manusia dengan bukti-bukti kuat dan sempurna. Dan tujuan itu akan dapat dicapai dengan pandangan realistik terhadap alam, dan dengan senatiasa melaksanakan dalam suatu kerangka peraturan, pokok-pokok akhlak, dan hukum-hukum perbuatan. Sekecil apapun perbuatan manusia, secara individu atau kelompok dalam sebuah masyarakat, di dalam beraktifitas harus sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Alqur’an. Semua aturan- aturan ini dinamakan syariat Islam dalam arti luas.

            Term syariat selanjutnya berkembang menjadi sebutan hukum Islam
( Islamic law ), yang oleh Schact diartikan dengan : seluruh titah Allah yang mengatur kehidupan setiap muslim dalam segala aspeknya. Dengan demikian, pengertian syariat yang berkembang menjadi hukum Islam, identik dengan pengertian “ ibadah “dalam arti luas. Bahkan Jalaluddin Rahmat menyamakan kedua Term itu. Beliau mengatakan : seperti halnya syariat Islam, cakupan ibadah dapat dibagi dua, yaitu ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, puasa , zikir dan yang bersifat sosial yaitu ibadah yang menyangkut hubungan antar manusia dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Kedua bentuk ibadah ini, oleh para fuqaha menamakannya dengan ibadah mahdhah dan gairu mahdhah.

            Ibadah merupakan hal yang penting untuk dipahami secara benar, sebab selama ini, ada sebahagian ummat Islam memahami ibadah terlalu sempit. Ibadah hanya dipahami terbatas pada rukun Islam, sehingga amalan-amalan lain diluar rukun Islam dianggap sebagai amalan biasa yang tidak ada hubungannya dengan ibadah ritual atau kehidupan ukhrawi. Pemahaman seperti ini akan melahirkan anggapan terhadap ajaran Islam bahwa Islam hanya mengatur urusan ukhrawi semata (ibadah ritual), sehingga waktunya hanya di mesjid, lalu mengabaikan usaha untuk kemajuan duniawi.

Di satu sisi ajaran Islam mengajarkan bagaimana meraih kebahagian akhirat dan bagaimana memperoleh kemajuan di dunia, namun di sisi lain umat Islam justru tertinggal dalam berbagai segi, tidak menampakkan pengamalan ajaran Islam secara baik, runtuhnya keseimbangan hubungan manusia dengan sesama manusia atau dengan makhluk alam sekitarnya, kezaliman merajalela di mana-mana, mengabaikan atau justru melakukan eksploitasi sumber daya alam, demikian pula, melakukan kompetisi dalam kehidupan manusia secara tidak sehat demi meraih keuntungan pribadi atau golongan, pada hal mereka tekun melaksanakan shalat, puasa bahkan telah menyempurnakan rukun Islam, tetapi juga tekun maksiat. Di sinilah ada kekeliruan yang perlu mendapatkan perhatian bagi segenap umat Islam, khususnya bagi mereka yang melakukan pengkajian terhadap ajaran Islam.

Salah satu hal yang menarik untuk dikaji mengenai pemahaman Asmaul Husna dalam Alqur’an. Asmaul Husna ini mngandung makna yang sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai kehidupan manusia. Umat manusia akan menjadi maju, bermartabat, mandiri dan sejahtera dalam suasana kehidupan yang damai dan tentram apabila umat manusia senantiasa mengamalkna nilai-nilai tersebut dan menjunjung tinggi dalam praktik kehidupan, baik sebagai individu, kelompok maupun sebagai masyarakat.

Oleh karena itu, Alqur’an sebagai sumber utama dalam pedoman hidup umat Islam, selain kaya dengan gaya bahasanya dan indah struktur kalimatnya, juga kaya dengan konsep-konsep ilmu, nilai-nilai, serta petunjuk-petunjuk untuk perjalanan hidup manusia, tidak pernah kering untuk membahasnya, seyogianya umat Islam senantiasa melakukan pengkajian terhadap Alqur’an untuk memahami dan mengamalkannya secara benar.

Dalam kaitan itu, Al-Asmaul Husna adalah salah satu lafaz dengan beragam bentuknya banyak ditemui di beberapa tempat di dalam Alqur’an, mengandung makna “perintah” untuk mengamalkannya dan memberi isyarat sebagai salah satu petunjuk dari sekian banyak petunjuk atau informasi yang ditegaskan di dalam Alqur’an, ” Hanya milik Allah Al-Amaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Amaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.“ Alqur’an memperkenalkan Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sifat-sifat tersebut disandang pula oleh manusia hanya saja sifat Allah Maha Sempurna sementara manusia serba terbatas karena manusia adalah makhluk-Nya tidak mungkin sama pencipta dan yang diciptakan.

This entry was posted in Fiqih. Bookmark the permalink.

One Response to MEMAHAMI ESENSI ASMAUL HUSNA DALAM ALQUR’AN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s